ASET PERKEBUNAN BUTUH PENGAWASAN LEBIH OPTIMAL

  • Admin Bulelengkab
  • 02 Juli 2015
  • Dibaca: 717 Pengunjung

Pendapatan dari hasil perkebunan kopi di daerah Mengening Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan Buleleng, kian hari semakin menurun. Seperti yang dilihat langsung oleh KOMISI III DPRD Kabupaten Buleleng dalam kunjungan kerjanya (3/7) didampingi oleh Direktur Pengelolaan PD Pasar Gede Pilot langsung menuju lokasi.

Menurut keterangan salah satu tenaga harian Wayan Togog lahan Blok 1 sampai 3 di dusun Mengening ini sebagian besar ditanami kopi dan beberapa ditanami cengkeh. Namun hanya 40% dari lahan yang tertanami. Ini dikarenakan sisa lahan seluas 27 hektar ini kebanyakan berbatu. Ditanya soal hasil panen kopi, Wayan menjelaskan bahwasannya kebun kopi disini sudah kurang produktif lagi lantaran pohon-pohon kopi sudah berumur lebih kurang 40 tahun. Menurutnya, untuk satu pohon kopi akan memiliki masa produktif selama 12 sampai 25 tahun. “punyan wedange driki sampun tua nike, sampun kidik mebuah” ungkapnya. Wayan Togog menambahkan, kelompok pekerja di perkebunan kopi mengening ini hanya berjumlah 11 orang. Ini sangat tidak cukup untuk mengurus areal perkebunan seluas 47 hektar. Idealnya per hektar untuk 1 orang. Disamping itu, upah yang didapat oleh pekerja hanya 15.000 rupiah perharinya. Ini bias saja menjadi salah satu alas an kurang gregetnya SDM yang dipekerjakan disana. Belum lagi terkadang pekerja hanya bekerja sampai pukul 13.00 saja lantaran di luar masih ada pekerjaan dengan upah yang lebih banyak.

Jika dilihat dari kualitas tanah, daerah tersebut masih menjanjikan seperti penjelasan wayan togog selaku koordinator blok 1 – 6. Secara pribadi, Wayan ingin sekali memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami tanaman lain yang juga menjanjikan untuk pendapatan PD Swatantra. Menurutnya juga, jika lahan tersebut memang harus ditanami pohon kopi karena daerah tersebut merupakan daerah mudah longsor, sebaiknya sebelum re-generasi pohon kopi, tanah perlu diistirahatkan selama lebih kurang 2-2,5 tahun. Dari jangka waktu itu, pengurus perkebunan memberikan usul jika mungkin menanami umbi-umbian agar tanah tetap subur. Blok 1 sampai 3 berada di dusun Mengening ditanami kopi yang kini usianya sudah 40 tahunan, sedangkan di daerah Tajun yakni blok 4 sampai 6 yang memiliki luas produktif lebih kurang 18 hektar telah ditanami cengkeh sebanyak 300 pohon.

Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur Pengelolaan PD Swatantra, Gede Pilot saat menjawab pertanyaan Komisi IV prihal hasil panen tahun 2014, bahwa penghasilan yang didapat pada tahun terakhir berkisar 260.000.000 saja (bruto). Ini masih jauh dari hasil maksimal yang mampu dipetik dari lahan luas yang ada. Selama ini PD Swatantra hanya mendapat ijin untuk menanam kopi di daerah tersebut lantaran daerah disana merupakan daerah rawan longsor seperti yang tercantum pada SK yang ada.

Menurut Putri Nareni selaku Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Buleleng saat dikonfirmasi setelah kunjungan menyatakan perlu adanya pengawasan yang lebih optimal dari PD Swatantra terhadap aset-aset yang dimiliki. Disadari oleh Putri bahwa lokasi memang cukup terjal bisa saja mengurangi kapasitas pengawasan di perkebunan. Putri bersama Komisi III menilai bahwa lahan seluas 47 hektar di daerah tajun ini sangat – sangat potensial. Hanya saja hasil yang didapat sejauh ini masih belum optimal. “Lahan-lahan harus diawasi lebih baik agar tidak ada kerugian baik yang disebabkan oleh panen yang kurang maksimal ataupun kurangnya pengawasan detail dari hasil panen sesungguhnya” tegas Putri Nareni. Komisi II juga meminta agar PD Pasar lebih sering turun kelapangan agar kendala-kendala yang dihadapi dapat segera dicari solusinya. (aa)

 

Note :

-          Area Blok 1,2, dan 3 berada di dusun Mengening +/- 27 hektar

-          Area Blok 4,5, dan 6 berada di desa tajun +/- 18an hektar

Share Post :